
"Selamat tinggal kamera film?" Mungkin ucapan itu tidak berlebihan jika melihat semakin pesatnya perkembangan kamera digital saat ini. Kehadirannya seperti tidak terbendunglagi. Bahkan para fotografer profesional dunia yang pada awalnya kurang berminat dengan alasan fotografi digital adalah penipuan dengan berbagai manipulasi di komputernya, kini mereka telah menggunakan fotografi digital..
Geliat fotografi digital dimulai pada awal 90-an. Fotografi memasuki era baru dengan adanya kamera digital. Kamera digital pertama diproduksi oleh kodak yaitu DCS 100 (Digital Camera System 100) yang ditempelkan pada bagian belakang Nikon F-3 sehingga imaji yang biasa ditangkap oleh film, ditangkap oleh sebuah keping yang menerjemahkan imaji itu ke dalam data digital. Fotografi digital menjadi mungkin dengan adanya sistem digital yang mendukung, seperti kamera digital, disket dan perangkat komputer beserta program-programnya (Adobe Photoshop, Aldus Photostyler, correl Photopaint, dll).
Perbedaan yang sangat mencolok antara kamera digital dan kamera film atau konvensional adalah tidak diperlukannya film pada kamera digital. Karena semua prosesnya terkomputerisasi maka seorang fotografer hanya perlu membawa memory card saja. Dinamakan kamera digital karena pada setiap prosesnya menggunakan angka-angka (digit) yaitu angka 0-1 yang hanya bisa dimengerti oleh komputer.
Meskipun pada awalnya fotografi digital kurang diminati oleh fotografer profesional, dengan alasan fotografi digital adalah penipuan dengan berbagai manipulasinya di kompueter. Fotografi digital sesungguhnya memiliki konsep dasar serupa dengan fotografi konvensional. Hukum-hukum fotografi yang menyangkut masalah optik tentang bukaan diafragma ataupun ruang cahaya tidak berubah. Terlepas dari kecanggihan yang ditawarkan oleh fotografi digital, ia adalah sebuah alat yang dibuat oleh manusia dan tanggung jawab penggunaannya ada ditangan manusia itu sendiri.
Untuk hal-hal yang berupa fakta, seperti kondisi sosial ekonomi masyarakat, tentulah manipulasinya sangat terbatas. Akan tetapi untuk hal-hal yang berupa ilustrasi dan bukan fakta dapatlah dilakukan, tentu saja dengan tetap mengacu pada kode etik yang berlaku. Keuntungan dari fotografi digital adalah kemampuannya menghasilkan gambar dalam waktu relatif cepat dibandingkan metode konvensional, menyimpan gambar dalam jangka waktu lama.
Selain itu, misalnya bagi keluarga yang mengadakan wisata sambil melakukan pemotretan dengan kamera digital, gambarnya dapat dilihat langsung dengan menggunakan kabel dihubungkan ke TV. Tidak diperlukannya kamar gelap untuk pemrosesan foto. Cukup seperangkat pada kondisi ruang dengan pencahayaan biasa. Masalah keakuratan data pun pada fotografi digital sangatlah akurat , karena imaji yang direkam dalam sebuah memory card dapat direkam berulang-ulang tanpa mengalami kerusakan.
Di dalam dunia pendidikan, fotografi digital akan sangat membantu. Misalnya untuk mengajarkan cara membidik, paling cuma butuh waktu lima menit. Hasil gambarnya dapat dilihat langsung dan kalau tidak suka bisa dihapus dan diulang lagi. Foto digital murni adalah foto yang sejak pemotretan, pemrosesan sampai penyimpanannya memakai sarana digital murni. Seperti kamera digital untuk pemotretan, memory card untuk menyimpan data berupa imaji, hard disk atau juga optical disk, dan program komputer untuk mengolah data. Teknologi pengolahan fotografi digital sendiri telah ada sebelumnya yaitu mengubah film dari kamera konvensional menjadi data digital.
Hal yang mempengaruhi kualitas kehalusan gambar itu sangat berkaitan dengan resolusi gambar yang dihasilkan. Kehalusan gambar atau resolusi gambar sampai saat ini menggunakan dua ukuran, yaitu DPI (Dot Per Inch) dan Pixel (picture element). Proses pencetakan suatu gambar sesungguhnya berasal dari gabungan titik amat kecil tidak terlihat oleh mata biasa. Sampai saat ini kemampuan resolusi rekaman kamera digital sudah cukup tinggi. Untuk kelas kompak saja misalnya sudah ada yang mencapai 8 juta pixel pada setiap gambarnya.
Dalam perkembangannya kamera digital itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu low -end (kamera dengan resolusi rendah) dan high end (kamera resolusi tinggi sejenis SLR), Fokus produksi kamera digital lebih banyak bertuimpu pada jenis low -end. Kodak adalah pionir produsen kamera digital pertama yang telah merintis usahanya bersama dengan Nikon sejak tahun 1990. Yaitu dengan menempelkan Kodak DCS-100 pada kamera Nikon F-3, selama lima tahun berturut-turut produk ini belum ada yang menyaingi.
Hal tersebut kemudian diikuti (1995) oleh produsen kamera lain yang mulai berlomba-lomba memproduksi kamera digital. Canon misalnya memproduksi Canon EOS DCS 3 dengan resolusi 1268 x 1012 pixel, kepekaannya berkisar antara ISO 200 sampai ISO 1600. Pada tahun yang sama Kodak yang bekerja sama dengan Nikon mengeluarkan Kodak DCS 420 dan DCS 460 yang dipasangkan di kamera Nikon N90.
Sementara itu
Diawal perkembangan kamera digital, kebanyakan produsen melakukan kerja sama dalam pembuatan kamera. Hal ini karena ada perusahaan kamera yang mampu membuat imaji dari sarana optis sementara produsen lain memilki kemampuan dalam mengolah data digital. Kini masalah itu sudah teratasi. Itu terlihat dari perkembangan kamera yang semakin marak khususnya untuk jenis kamera di kelas kompak, bukan SLR. Hebatnya, Olympus Mju-800 misalnya, meski berjenis kamera kompak tapi berkemampuan resolusi tertinggi di kelasnya, yaitu 8 juta pixels maka mencetak foto di atas kertas foto tak kurang dari 10R sekalipun, kualitasnya tetap baik.
Demikian pula halnya dengan kamera SLR. Persaingannya pun tidak kalah seru. Para produsen kamera dunia, seperti Canon, Nikon, Konica Minolta, dan Olympus masing-masing saling menawarkan keunggulan fitur-fitur yang melekat di kamera. Bahkan Konica Minolta mengklaim sebagai pelopor kamera digital berteknologi Anti Shake (anti goyang).
Maraknya kamera digital juga telah berakibat pada perang harga. Dulu orang berpikir dua kali untuk membeli kamera digital. Namun sekarang dengan uang Rp 1 juta lebih sudah bisa membawa pulang kamera digital jenis kompak. Bahkan dewasa ini di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung serta Medan, di sana kamera digital keberadaanya sudah begitu familiar.
Soal resolusi sampai saat ini masih merupakan "senjata pamungkas" bagi produsen kamera untuk memikat konsumen.
0 komentar:
Posting Komentar